Apakah Digitalisasi di Surabaya Membuat UMKM Naik Kelas?

Afifah

Afifah

Contributor

14 Agustus 2026
5 min baca
2 dilihat
Ai-teknologi-keuangan

Digitalisasi telah menjadi bagian dari kehidupan bisnis, termasuk bagi pelaku UMKM di Surabaya. Platform digital mengubah cara konsumen mencari produk, melakukan transaksi, hingga berinteraksi dengan penjual. Bagi UMKM, perubahan tersebut membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus mengelola usaha secara lebih efisien. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah digitalisasi benar-benar membuat UMKM Surabaya naik kelas?

Pertanyaan tersebut penting karena memiliki akun media sosial, bergabung dengan marketplace, atau menerima pembayaran digital belum otomatis membuat sebuah usaha menjadi lebih maju. Teknologi pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Dampak dan keuntungan yang dihasilkan bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Digitalisasi baru memberikan dampak nyata ketika mampu membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, mengelola data, dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Digitalisasi Mengubah Cara UMKM Menjangkau Pasar

Salah satu manfaat digitalisasi yang paling terlihat adalah perubahan cara UMKM memasarkan produknya. Sebelumnya, pelaku usaha banyak mengandalkan pelanggan di sekitar lokasi usaha atau promosi dari mulut ke mulut. Kini, produk dapat ditawarkan melalui marketplace, media sosial, maupun platform digital yang dikembangkan pemerintah.

Di Surabaya, salah satu contohnya adalah e-PEKEN, platform yang digunakan untuk membantu pemasaran produk UMKM. Berdasarkan data Pemerintah Kota Surabaya, transaksi e-PEKEN sejak Oktober 2021 hingga Januari 2026 telah mencapai sekitar Rp223,2 miliar dan melibatkan 4.852 usaha masyarakat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa platform digital dapat menjadi salah satu kanal nyata untuk memperluas akses pasar UMKM. Pelaku usaha tidak lagi hanya bergantung pada konsumen yang datang secara langsung, tetapi dapat memanfaatkan kanal digital untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

Namun, besarnya nilai transaksi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh UMKM yang masuk ke platform tersebut telah naik kelas. Masih diperlukan peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, legalitas, serta kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis secara berkelanjutan.

Si-Boyo dan Ekosistem Ekonomi Digital Lokal

Digitalisasi UMKM Surabaya juga berkembang melalui Si-Boyo, platform belanja digital yang diluncurkan Pemerintah Kota Surabaya pada Desember 2025. Platform ini dirancang untuk mengintegrasikan Koperasi Kelurahan Merah Putih dengan pelaku UMKM lokal sekaligus mendorong perubahan dari pola koperasi konvensional menuju ekosistem ekonomi digital.

Konsep tersebut menarik karena digitalisasi tidak hanya digunakan sebagai sarana berjualan. Platform digital dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha, koperasi, konsumen, dan berbagai aktivitas ekonomi lokal. Pemerintah Kota Surabaya juga menyebut Si-Boyo diarahkan untuk terintegrasi dengan 153 kelurahan di Surabaya.

Artinya, teknologi memiliki potensi untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih terhubung. Namun, keberhasilan ekosistem tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi secara konsisten dan sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.

Dari Transaksi Digital ke Data Bisnis

Salah satu perubahan penting yang sering luput dibahas adalah munculnya data sebagai aset bisnis. Ketika transaksi dilakukan melalui platform digital atau pembayaran elektronik, aktivitas bisnis dapat tercatat secara lebih terstruktur.

Pembayaran digital sendiri semakin berkembang di Indonesia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,66 miliar transaksi pada November 2025, sementara transaksi QRIS tumbuh 143,64 persen secara tahunan.

Bagi UMKM, data transaksi dapat menjadi dasar untuk mengetahui produk yang paling banyak terjual, periode penjualan tertinggi, hingga pola permintaan konsumen. Dengan pengelolaan yang tepat, data tersebut dapat membantu pemilik usaha mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan sekadar perkiraan.

Di sinilah digitalisasi mulai berkembang dari sekadar “jualan online” menjadi transformasi digital. Teknologi tidak hanya digunakan untuk menjual produk, tetapi juga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk memahami dan mengembangkan bisnis.

Tantangan: Tidak Semua Digitalisasi Berarti Naik Kelas

Meski peluangnya besar, digitalisasi bukan solusi otomatis bagi seluruh persoalan UMKM. Pelaku usaha tetap membutuhkan literasi digital, kemampuan mengelola keuangan, kualitas produk, strategi pemasaran, serta kesiapan menggunakan teknologi secara berkelanjutan.

Pemerintah Kota Surabaya sendiri tidak hanya mendorong digitalisasi. Sepanjang 2025, sebanyak 5.250 UMKM mendapatkan berbagai bentuk intervensi, mulai dari pelatihan pemasaran hingga pendampingan legalitas produk. Pada 2026, pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pemasaran dan kemitraan.

Hal ini menunjukkan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari proses menaikkan kelas UMKM. Sebuah bisnis dapat memiliki marketplace, media sosial, QRIS, dan berbagai aplikasi sekaligus, tetapi tetap kesulitan berkembang apabila pencatatan, pemasaran, operasional, dan pengelolaan datanya berjalan secara terpisah.

Digitalisasi Harus Berujung pada Transformasi

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan digitalisasi bukan sekadar berapa banyak UMKM yang memiliki akun digital. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi membuat bisnis menjadi lebih efisien, memiliki jangkauan pasar yang lebih luas, lebih terukur, dan lebih mampu mengambil keputusan.

Surabaya telah menunjukkan sejumlah langkah menuju ekosistem UMKM yang semakin digital, mulai dari e-PEKEN, Si-Boyo, pembayaran digital, hingga digitalisasi sistem manajemen koperasi. Pada Januari 2026, Pemerintah Kota Surabaya juga berkolaborasi dengan Universitas Kristen Petra dan Singapore University of Technology and Design untuk memperkuat sistem manajemen Koperasi Sumber Mulia Barokah melalui digitalisasi.

Karena itu, jawaban atas pertanyaan apakah digitalisasi membuat UMKM Surabaya naik kelas adalah bisa, tetapi tidak otomatis. Platform digital seperti e-PEKEN dan Si-Boyo menunjukkan bahwa teknologi telah membuka akses pasar dan membangun ekosistem ekonomi yang lebih terhubung. Namun, keberadaan teknologi saja belum cukup untuk menjamin peningkatan kinerja bisnis.

UMKM baru benar-benar dapat dikatakan naik kelas ketika teknologi mampu menghasilkan perubahan yang terukur, seperti peningkatan omzet, efisiensi operasional, perluasan pasar, pengelolaan data yang lebih baik, dan pengambilan keputusan yang lebih tepat. Dengan demikian, tantangan berikutnya bagi UMKM Surabaya bukan lagi sekadar masuk ke dunia digital, tetapi mengubah teknologi menjadi keunggulan bisnis yang nyata.

Referensi

Tags
digitalisasi UMKM UMKM Surabaya transformasi digital teknologi bisnis e-PEKEN
Link berhasil disalin ke clipboard!
👋 Tanya AI Kami!
Kembali ke Atas
Chat WhatsApp
Chat Bot

Asisten GL++

Online 24/7
GL-Bot

Halo! 👋 Saya asisten virtual GL++. Ada yang bisa saya bantu tentang software akuntansi dan layanan kami?

16:38