Bagaimana jika omzet bisnis turun bukan karena produk sepi peminat, tetapi karena pelanggan takut parkir? Persoalan parkir liar di Surabaya menunjukkan bahwa ada “biaya” yang tidak pernah muncul di laporan keuangan: pelanggan yang memilih pergi sebelum sempat berbelanja.
Bagi pemilik usaha, pelanggan yang batal datang berarti ada potensi omzet yang ikut hilang. Masalahnya, penyebabnya tidak selalu berasal dari harga atau kualitas produk. Di Surabaya, persoalan parkir liar pernah membuat pelanggan enggan datang ke sebuah toko.
Kisah tersebut dialami Nikolin Clarissa, pemilik toko vape Pods Authentic Surabaya di Jalan Gemblongan. Pada Maret 2025, ia menyampaikan bahwa sejumlah pelanggan takut datang karena khawatir terkena pungutan parkir liar. Keluhan itu muncul setelah kepala tokonya menjadi korban pemukulan oleh seorang tukang parkir. (detik.com)
Kasus tersebut memperlihatkan bahwa masalah di sekitar lokasi usaha dapat ikut memengaruhi kondisi keuangan bisnis.
Ketika Pelanggan Tidak Jadi Datang
Dalam laporan keuangan, pemilik bisnis dapat dengan mudah melihat biaya listrik, gaji, sewa, dan bahan baku. Namun, bagaimana dengan pelanggan yang batal membeli?
Misalnya, rata-rata 10 pelanggan per hari memilih tidak datang karena merasa tidak nyaman dengan kondisi parkir. Jika rata-rata transaksi mereka Rp100.000, ada potensi penjualan Rp1 juta per hari yang tidak terjadi.
Angka tersebut memang bukan kerugian yang bisa langsung dicatat sebagai beban. Namun, dari sisi manajemen, kondisi tersebut merupakan opportunity cost yang patut diperhatikan.
Karena itu, penurunan omzet sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah produk atau promosi. Pemilik usaha perlu melihat faktor eksternal yang memengaruhi pengalaman pelanggan.
Parkir Juga Menjadi Persoalan Pengelolaan Usaha
Persoalan parkir liar di area usaha bukan hanya dialami satu bisnis. Pemkot Surabaya sebelumnya melakukan penertiban di sejumlah toko modern setelah menerima laporan mengenai jukir liar yang menarik biaya dari pelanggan, termasuk di lokasi yang memasang informasi parkir gratis. (surabaya.go.id)
Bagi pemilik bisnis, situasi seperti ini dapat menimbulkan dua persoalan sekaligus: kenyamanan pelanggan dan risiko pendapatan.
Apalagi bagi usaha yang sangat bergantung pada pelanggan yang datang langsung, akses menuju toko menjadi bagian dari pengalaman berbelanja.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Pemilik Bisnis?
Pertama, ukur dampaknya menggunakan data. Bandingkan jumlah transaksi dan omzet sebelum dan setelah munculnya persoalan parkir. Catat pula keluhan pelanggan untuk melihat apakah masalah tersebut benar-benar berkaitan dengan penurunan kunjungan.
Kedua, pastikan status dan pengelolaan parkir jelas. Pemilik usaha perlu memastikan area parkir dikelola sesuai ketentuan dan petugas yang bertugas memiliki status yang sesuai. Pemkot Surabaya juga telah menekankan pentingnya izin penyelenggaraan tempat parkir bagi pelaku usaha. (surabaya.go.id)
Ketiga, jangan abaikan masalah yang berada di luar toko. Jika pelanggan terus mengeluhkan parkir, bisnis dapat berkoordinasi dengan pengelola kawasan atau melaporkan persoalan tersebut melalui kanal resmi pemerintah.
Yang tidak kalah penting, pemilik usaha sebaiknya memasukkan faktor seperti akses, keamanan, dan kenyamanan pelanggan dalam evaluasi risiko bisnis.
Omzet yang Hilang Tidak Selalu Terlihat
Kisah Pods Authentic Surabaya memberikan pelajaran sederhana: tidak semua risiko keuangan muncul sebagai angka pengeluaran.
Ada biaya yang tidak pernah masuk laporan keuangan karena bentuknya bukan uang yang keluar, melainkan pendapatan yang tidak pernah terjadi.
Karena itu, ketika omzet bisnis tiba-tiba menurun, jangan hanya bertanya, “Apa yang salah dengan produk kita?”
Coba lihat lebih luas.
Bisa jadi masalahnya bukan di dalam toko, tetapi pada alasan mengapa pelanggan memilih untuk tidak masuk.