Surabaya Great Expo bukan sekadar tempat belanja dan memamerkan produk. Dalam beberapa penyelenggaraan sebelumnya, transaksi yang tercatat mencapai miliaran rupiah. Pada 2022, misalnya, transaksi SGE menembus Rp7,4 miliar dari sekitar 27 ribu pengunjung.
Namun, bagi pelaku usaha, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar “berapa omzet yang didapat?”
Apakah setelah pameran selesai, bisnis benar-benar membawa keuntungan?
Omzet Besar Belum Tentu Berarti Untung
Pameran seperti Surabaya Great Expo memang memberikan peluang besar bagi bisnis untuk bertemu konsumen secara langsung. SGE sendiri menghadirkan berbagai sektor, mulai dari UMKM, kuliner, fesyen, hingga produk dan layanan lainnya. Pada 2026, SGE digelar pada 5–9 Agustus di Exhibition Hall Grand City Surabaya dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 serta HUT RI ke-81.
Tetapi meningkatnya transaksi tidak otomatis membuat laba meningkat dengan jumlah yang sama.
Bayangkan sebuah bisnis memperoleh omzet Rp20 juta selama pameran.
Sekilas terdengar menguntungkan.
Padahal, sebelum mengikuti event, bisnis tersebut mungkin harus mengeluarkan biaya untuk:
- sewa atau persiapan booth,
- dekorasi,
- stok tambahan,
- transportasi,
- tenaga kerja,
- promosi,
- kemasan,
- hingga biaya operasional selama event.
Jika total biaya tambahan mencapai Rp15 juta, maka omzet Rp20 juta tentu tidak bisa langsung dianggap sebagai keuntungan Rp20 juta.
Inilah mengapa omzet dan laba harus dipisahkan.
Mengikuti Expo Harus Dipandang sebagai Investasi
Kesalahan yang cukup umum dilakukan pelaku usaha adalah melihat biaya pameran hanya sebagai pengeluaran.
Padahal, keikutsertaan dalam event dapat diperlakukan sebagai investasi pemasaran.
Tujuannya bukan hanya mendapatkan penjualan pada hari pameran, tetapi juga memperoleh pelanggan baru, memperkenalkan merek, membangun jaringan, dan membuka peluang repeat order.
Karena itu, sebelum mengikuti event, pelaku usaha sebaiknya membuat perhitungan sederhana:
Berapa biaya yang harus dikeluarkan?
Berapa tambahan penjualan yang ditargetkan?
Berapa laba yang diharapkan?
Dengan perhitungan tersebut, keputusan mengikuti pameran tidak hanya berdasarkan pertimbangan “event-nya ramai”, tetapi berdasarkan potensi return terhadap uang yang dikeluarkan.
Jangan Hanya Menghitung Omzet, Hitung ROI
Salah satu cara sederhana untuk mengevaluasi keberhasilan event adalah menggunakan Return on Investment (ROI).
Misalnya sebuah bisnis mengeluarkan total Rp10 juta untuk mengikuti pameran.
Setelah dihitung, tambahan laba yang diperoleh dari kegiatan tersebut mencapai Rp15 juta.
Maka:
ROI = (Rp15 juta – Rp10 juta) ÷ Rp10 juta × 100% = 50%
Artinya, investasi yang dikeluarkan menghasilkan return sebesar 50%.
Perhitungan seperti ini jauh lebih informatif dibanding hanya mengatakan:
“Penjualan selama expo mencapai Rp15 juta.”
Karena angka penjualan belum menunjukkan berapa keuntungan yang benar-benar diperoleh setelah seluruh biaya diperhitungkan.
Transaksi di Expo Bisa Menjadi Awal, Bukan Akhir
Ada satu hal lain yang sering terlewat.
Tidak semua manfaat pameran muncul dalam bentuk transaksi langsung.
Seorang pengunjung mungkin datang ke booth, melihat produk, tetapi belum membeli. Ia kemudian mengikuti akun bisnis, menyimpan kontak, dan baru melakukan pembelian beberapa minggu kemudian.
Artinya, keberhasilan mengikuti pameran juga dapat dilihat dari nilai pelanggan setelah event.
Pelaku usaha bisa mencatat:
- jumlah pengunjung booth,
- jumlah transaksi,
- pelanggan baru,
- kontak yang diperoleh,
- repeat order setelah event,
- produk yang paling diminati,
- serta biaya untuk mendapatkan pelanggan baru.
Dari sini, event tidak lagi sekadar menjadi tempat berjualan selama lima hari, tetapi menjadi sumber data untuk menentukan strategi bisnis berikutnya.
Belajar dari Angka SGE
Besarnya transaksi dalam Surabaya Great Expo menunjukkan bahwa pameran dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang signifikan. Pada SGE 2024, misalnya, penyelenggara mencatat transaksi sekitar Rp3,52 miliar dengan jumlah pengunjung mencapai 28.324 orang.
Sementara itu, pada 2024 Pemkot Surabaya sebelumnya menargetkan omzet Rp7,5 miliar dan menyediakan 183 stan, dengan 115 di antaranya untuk UMKM.
Angka-angka tersebut menunjukkan adanya potensi pasar yang besar.
Tetapi bagi setiap bisnis yang ikut berpartisipasi, angka miliaran rupiah tersebut bukan berarti semua peserta otomatis mendapatkan keuntungan besar.
Hasil akhirnya tetap bergantung pada bagaimana masing-masing bisnis mengelola modal, menentukan target penjualan, mengendalikan biaya, dan mengevaluasi hasil setelah event.
Setelah Expo, Keuangan Jangan Ikut “Selesai”
Pameran boleh berakhir, tetapi pekerjaan keuangan justru belum selesai.
Setelah event, pelaku usaha perlu melakukan evaluasi sederhana:
Pendapatan tambahan – biaya tambahan = hasil dari event.
Kemudian bandingkan hasil tersebut dengan target yang sudah dibuat sebelum pameran.
Jika ternyata biaya promosi terlalu besar tetapi penjualan tidak bertambah signifikan, strategi berikutnya perlu diperbaiki.
Sebaliknya, jika satu produk ternyata sangat diminati, bisnis bisa meningkatkan stok atau kapasitas produksi untuk menangkap permintaan setelah event.
Dengan cara ini, laporan keuangan tidak hanya berfungsi untuk mencatat masa lalu, tetapi menjadi dasar untuk mengambil keputusan bisnis berikutnya.
Ramai Transaksi Bukan Tujuan Akhir
Surabaya Great Expo membuktikan bahwa sebuah event dapat menjadi ruang pertemuan antara bisnis dan konsumen sekaligus menciptakan perputaran ekonomi yang besar.
Namun bagi pelaku usaha, keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa ramai booth atau seberapa besar omzet yang tercatat.
Yang lebih penting adalah:
berapa laba yang tersisa, berapa biaya yang dikeluarkan, berapa pelanggan baru yang diperoleh, dan apakah investasi mengikuti pameran menghasilkan return yang layak.
Karena pada akhirnya, bisnis yang sehat bukan bisnis yang sekadar ramai transaksi, tetapi bisnis yang mampu mengubah transaksi menjadi keuntungan dan keuntungan menjadi pertumbuhan.
Setelah mengikuti event atau pameran, jangan hanya menghitung “berapa yang terjual?”
Coba hitung juga:
berapa yang dikeluarkan, berapa yang benar-benar menjadi laba, dan apakah pelanggan yang datang hari ini akan kembali membeli besok.
Dari sana, setiap pameran bisa menjadi lebih dari sekadar ajang jualan—tetapi menjadi investasi yang bisa diukur hasilnya.