Setiap tahun ajaran baru, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur memilih Surabaya sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan. Kota ini menjadi tujuan favorit karena memiliki banyak perguruan tinggi ternama, mulai dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), hingga berbagai kampus swasta lainnya.
Namun, bagi mahasiswa yang berasal dari daerah seperti Blitar, Madiun, Pacitan, Trenggalek, Magetan, atau Ngawi, merantau ke Surabaya bukan hanya soal beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada tantangan lain yang tak kalah penting, yaitu menyesuaikan pengelolaan keuangan di kota dengan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar.
Lantas, bagaimana mahasiswa dapat mengelola keuangan agar tetap nyaman menjalani kehidupan perkuliahan tanpa harus terus-menerus khawatir di akhir bulan?
Mengapa Pengeluaran di Surabaya Terasa Lebih Besar?
Saat pertama kali merantau, banyak mahasiswa hanya memperhitungkan biaya kos dan uang makan. Padahal, masih ada berbagai pengeluaran lain yang sering kali tidak disadari, seperti transportasi, laundry, kebutuhan akademik, paket internet, biaya organisasi, hingga pengeluaran untuk bersosialisasi.
Sebagai contoh, kebiasaan membeli kopi setiap hari sebelum kuliah atau sering makan di luar mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara rutin, pengeluaran tersebut dapat menghabiskan ratusan ribu rupiah setiap bulan.
Karena itu, memahami pola pengeluaran sejak awal menjadi langkah pertama dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Jangan Samakan Gaya Hidup dengan Teman
Kesalahan yang cukup sering terjadi pada mahasiswa baru adalah menyesuaikan gaya hidup dengan lingkungan sekitar. Tidak semua teman memiliki kondisi keuangan yang sama. Ada yang memperoleh uang saku lebih besar, ada pula yang memiliki penghasilan tambahan dari pekerjaan paruh waktu atau usaha sendiri.
Memaksakan diri untuk selalu mengikuti tren nongkrong, membeli barang yang sedang populer, atau menggunakan layanan "beli sekarang, bayar nanti" tanpa perencanaan justru dapat membuat kondisi keuangan menjadi tidak sehat. Mengelola keuangan bukan berarti membatasi diri untuk menikmati masa kuliah, melainkan mampu menentukan prioritas sesuai kemampuan finansial.
Susun Anggaran Bulanan Sejak Awal
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat anggaran bulanan. Misalnya, jika uang saku yang diterima setiap bulan sebesar Rp2.500.000, maka dana tersebut dapat dibagi berdasarkan kebutuhan utama terlebih dahulu, seperti biaya kos, makan, transportasi, kebutuhan kuliah, serta dana darurat.
Dengan memiliki alokasi yang jelas, mahasiswa akan lebih mudah mengetahui batas pengeluaran dan mengurangi risiko kehabisan uang sebelum akhir bulan. Yang tidak kalah penting, biasakan untuk mencatat setiap pengeluaran, sekecil apa pun nominalnya. Saat ini sudah banyak aplikasi pencatat keuangan yang dapat membantu memantau kondisi finansial secara praktis melalui ponsel.
Manfaatkan Fasilitas Mahasiswa Secara Maksimal
Menjadi mahasiswa juga berarti memiliki akses terhadap berbagai fasilitas yang dapat membantu menghemat pengeluaran. Misalnya, memanfaatkan perpustakaan dibandingkan membeli seluruh buku, menggunakan transportasi umum atau layanan mahasiswa apabila tersedia, mencari promo khusus pelajar, hingga mengikuti kegiatan kampus yang menyediakan konsumsi atau pelatihan secara gratis.
Langkah-langkah sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat memberikan penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.
Siapkan Dana Darurat Meski Masih Kuliah
Banyak mahasiswa menganggap dana darurat hanya diperlukan oleh mereka yang sudah bekerja. Padahal, kondisi tidak terduga bisa terjadi kapan saja, seperti laptop rusak, biaya kesehatan, atau kebutuhan mendadak lainnya.
Tidak perlu langsung menyiapkan dana dalam jumlah besar. Menyisihkan sebagian kecil uang saku setiap bulan secara rutin sudah menjadi awal yang baik untuk membangun kebiasaan finansial yang bertanggung jawab.
Belajar Mengelola Keuangan Sejak Kuliah adalah Investasi Jangka Panjang
Kemampuan mengelola keuangan merupakan salah satu keterampilan hidup yang akan terus dibutuhkan, bahkan setelah lulus kuliah. Mahasiswa yang terbiasa menyusun anggaran, mengendalikan pengeluaran, dan menabung cenderung lebih siap menghadapi berbagai tantangan finansial ketika memasuki dunia kerja.
Merantau ke Surabaya memang memberikan pengalaman baru, mulai dari lingkungan akademik yang dinamis hingga peluang untuk mengembangkan diri. Namun, pengalaman tersebut akan menjadi lebih bermakna apabila diiringi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak.
Pada akhirnya, kesuksesan selama masa kuliah tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat. Dengan perencanaan yang baik, mahasiswa dari daerah mana pun dapat menikmati pengalaman merantau di Surabaya tanpa harus mengorbankan kesehatan keuangannya.